Kearifan Lokal Desa Karangsari

Secara topografi, Indonesia merupakan negara kepulauan yang terbentuk dari ribuan pulau dimana setiap pulau memiliki karakteristiknya sendiri. Hal tersebut menyebabkan Indonesia menjadi sebuah negara dengan tingkat kemajemukan yang sangatlah tinggi. Kemajemukan tersebut menyebabkan banyaknya keberagaman yang tercipta di Indonesia. Machmud (2013) mengatakan bahwa Indonesia merupakan negara dengan penduduk yang beragam dari aspek ideologi, adat, agama, budaya, dan kehidupan sosialnya maka terdapat bentuk-bentuk kearifan lokal yang beragam pula dalam menjalani kehidupannya.

Kearifan lokal adalah pandangan hidup dan ilmu pengetahuan serta berbagai strategi kehidupan yang berwujud aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat lokal dalam menjawab berbagai masalah pemenuhan kebutuhan mereka. Dalam bahasa asing sering juga dikonsepsikan sebagai kebijakan setempat “local wisdom” atau pengetahuan setempat “local knowledge” atau kecerdasan setempat “local genious” (Fajarini, 2014). Kearifan lokal muncul akibat adanya penafsiran masyarakat terhadap bagaimana suatu lingkungan atau sumber daya alam akan memberikan manfaat baginya. Maka, penafsiran itulah yang memunculkan pengetahuan masyarakat dalam cara mempertahankan lingkungannya (Listianingrum & Sudrajat, 2015).

Secara sederhana, kearifan lokal dapat dimaknai sebagai budaya meliputi adat istiadat, kebiasaan, kesenian, dan lain sebagainya yang melekat dalam masyarakat setempat. Di daerah pedesaan kearifan lokal biasanya masih melekat erat, salah satunya yaitu di Desa Karangsari. Desa Karangsari merupakan salah satu desa di Kecamatan Pejawaran, Kabupaten Banjarnegara yang terbagi menjadi 3 Dusun, 3 RW, dan 17 RT. Desa Karangsari memiliki komposisi populasi laki-lakinya lebih banyak dibandingkan populasi perempuannya dengan mayoritas mata pencahariannya sebagai petani. Banyaknya jumlah penduduk tersebut memunculkan kemajemukan budaya dan keragaman kearifan lokal yang ada. Berikut ini kearifan lokal yang ada di Desa Karangsari:

1.       Kearifan Lokal dalam Bermasyarakat

Dalam bermasyarakat, masyarakat Desa Karangsari menjunjung tinggi nilai keramah-tamahan dan budaya gotong royong. Budaya gotong royong merupakan bentuk kerja sama antar warga untuk mencapai suatu tujuan bersama. Budaya gotong royong telah mengakar kuat dalam masyarakat Desa Karangsari. Budaya gotong royong di Desa Karangsari dilakukan dalam acara-acara tertentu seperti dalam kegiatan ngruwat bumi, kegiatan penyembelihan hewan kurban, dan lain sebagainya.

2.       Kearifan Lokal dalam Kepercayaan

Dalam hal kepercayaan masyarakat Desa Karangsari memiliki beberapa kearifan lokal yang sampai saat ini masih dapat dijumpai, diantaranya:

a.    Ngruwat bumi atau surenan dilakukan 1 tahun sekali di bulan suro pada hari rabu wage atau rabu kliwon. Ngruwat bumi atau surenan biasanya disebut sebagai merti desa atau bersih desa. Dalam kegiatan ini masyarakat desa biasanya mengadakan prosesi adat dan melaksanakan doa untuk ngrumat (memelihara) bumi Karangsari.

b.   Tradisi kenduri dilakukan dalam acara pernikahan; tahlilan (orang meninggal hari ke-7, ke-40, ke-100, ke-1000); orang hamil 4 bulanan dan 7 bulanan; khitanan; pemberian nama anak; dan akikah.

c.    Tradisi tirakatan dilakukan pada bulan agustus di hari kemerdekaan sebagai bentuk penghargaan pada para pahlawan.

d.   Sholawatan dan Tenongan di hari raya idul fitri. Tenongan merupakan acara makan bersama dimana setiap warga akan membawa makanan dari rumahnya masing-masing. Makanan yang dibawa akan ditaruh dalam wadah yang terdiri dari tiga susun berbentuk bulat berpenutup yang terbuat dari bambu. Acara tenongan ini, sekaligus digunakan untuk halal bihalal dalam mempererat tali silaturahmi.

  1. Kearifan Lokal dalam Kesenian Tradisional

Warok atau kuda lumping (kuda kepang terbaru) merupakan kesenian tradisional yang masih dilestarikan oleh masyarakat Desa Karangsari. Kesenian Warok ini biasanya akan dipentaskan dalam acara-acara tertentu seperti dalam acara ngruwat bumi, hajatan, khitanan, atau dalam acara yang dibuat oleh salah satu anggota dari penampil kesenian warok.

Di era modern seperti sekarang ini, keberadaan kearifan lokal mulai terancam luntur dan punah. Menyikapi hal tersebut, maka kearifan lokal perlu untuk terus dijaga dan dilestarikan karena, kearifan lokal digunakan untuk menjaga keseimbangan dan kelestarian lingkungan kita. Selain itu, pelestarian kearifan lokal juga diperlukan agar kearifan lokal tersebut dapat diketahui oleh generasi mendatang sehingga mereka dapat mengetahui jati dirinya. Generasi mendatang wajib mengenal dan mengerti arti dari kearifan lokal wilayahnya sebagai tameng diri agar budaya yang mereka punya tidak mudah terlupakan dan tergantikan dengan budaya baru.

 

Sumber:

Fajarini, U. (2014). Peranan Kearifan Lokal dalam Pendidikan Karakter. Sosio Didaktika, 1(2), 123-130.

Machmud, M. (2013). Heritage Media and Local Wisdom of Indonesian Society. Global Journal of Human Social Science, Arts, and Humanities, 13, 57-66.

Listianingrum, N., & Sudrajat. (2015). Kearifan Lokal Masyarakat Desa Bedoyo, Kecamatan Ponjong, Kabupaten Gunungkidul. Jurnal Bumi Indonesia, 1-8.

Wiriadiwangsa, D. 2005. Pranata Mangsa, Masih Penting Untuk Pertanian. Dimuat dalam Tabloid Sinar Tani 9- 15 Maret 2005, Halaman: 1-3.

Pencarian